welcome to my blog

Minggu, 05 Juni 2016

MALARIA

Pengertian Malaria
Malaria adalah penyakit menular akibat infeksi parasit plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk malaria yang bernama Anopheles. Nyamuk Anopheles penyebab penyakit malaria ini banyak terdapat pada daerah dengan iklim sedang khususnya di benua Afrika dan India. Termasuk juga di Indonesia.

Parasit plasmodium yang ditularkan nyamuk ini menyerang sel darah merah. Sampai saat ini ada empat jenis plasmodium yang mampu menginfeksi manusia yaitu plasmodium vivax, plasmodium malariae, plasmodium ovale dan plasmodium falciparum. Plasmodium falciparum merupakan yang paling berbahaya dan dapat mengancam nyawa.


Nyamuk Malaria Anopheles
Setiap tahunnya, sekitar 1,2 juta orang di seluruh dunia meninggal karena penyakit malaria. Demikian menurut data terbaru yang dimuat dalam jurnal kesehatan Inggris, The Lancet. Angka yang dilansir itu jauh lebih tinggi dari perkiraan WHO tahun 2010 yakni 655.000.

Banyak yang mengira penyakit malaria sama dengan demam berdarah karena punya gejala yang mirip dan sama-sama ditularkan oleh nyamuk. Namun perlu diketahui bahwa keduanya berbeda. Malaria disebabkan oleh nyamuk anopheles yang membawa parasit plasmodium, sementara demam berdarah disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti yang membawa visrus Dengue.

 Gejala penyakit Malaria
 
 Gejala malaria mirip dengan gejala flu biasa. Penderita mengalami demam, menggigil, nyeri otot persendian dan sakit kepala. Penderita mengalami mual, muntah, batuk dan diare. Gejala khas malaria adalah adanya siklus menggigil, demam dan berkeringat yang terjadi berulang ulang. Pengulangan bisa berlangsung tiap hari, dua hari sekali atau tiga hari sekali terggantung jenis malaria yang menginfeksi. Gejala lain warna kuning pada kulit akibat rusaknya sel darah merah dan sel hati.

Infeksi awal malaria umumnya memiliki tanda dan gejala sebagai berikut :

  • Menggigil
  • Demam tinggi
  • Berkeringat secara berlebihan seiring menurunnya suhu tubuh
  • Mengalami ketidaknyamanan dan kegelisahan (malaise)
Tanda dan gejala lain antara lain:
  • sakit kepala
  • Mual
  • Muntah
  • Diare

Dalam beberapa kasus, parasit penyebab malaria bisa bertahan dalam tubuh manusia selama beberapa bulan. Sementara itu, infeksi akibat parasit P. falciparum biasanya lebih serius dan lebih mengancam nyawa. Sehingga ketika merasakan gejala tersebut, penangan dokter lebih awal sangat disarankan.

Penyebab, Penularan & Faktor Risiko


Meski memiliki gejala yang hampir mirip, malaria dan demam berdarah disebabkan oleh nyamuk yang berbeda. Nyamuk penyebab penyakit malaria adalah Aedes Aegypti, dan menyerang pada siang hari. Sementara nyamuk Anopheles penyebab malaria menyerang pada pagi dan sore hari.

Penyebab Malaria

Parasit yang menyebabkan malaria disebut plasmodium. Ada 170 jenis plasmodium, tapi hanya empat yang menyebabkan malaria pada manusia :
  • P. falciparum, merupakan jenis yang banyak terdapat di Afrika dan menyebabkan gejala yang parah.
  • P. vivax, merupakan jenis yang banyak terdapat di daerah tropis Asia.
  • P. malariae, banyak terdapat di Afrika dan dapat berdiam di aliran darah tanpa menimbulkan gejala apapun untuk beberapa tahun.
  • P. ovale, banyak terdapat di Afrika bagian barat.

Proses Penularan Penyakit Malaria


Penularan parasit plasmodium kepada manusia adalah melalui nyamuk anopheles betina. Ketika nyamuk menggigit seseorang yang terinfeksi malaria, nyamuk tersebut menyedot parasit yang disebut gametocytes. Parasit tersebut menyelesaikan siklus pertumbuhannya di dalam tubuh nyamuk dan kemudian merambat ke kelenjar ludah nyamuk. Pada saat menggigit anda, nyamuk ini menyuntikan parasit ke aliran darah anda. Menuju hati kemudian melipatgandakan diri.

Bentuk penularan lain yang dapat terjadi dapat berupa penularan dari wanita hamil ke janin. Malaria juga dapat menular melalui transfusi darah.

Faktor Risiko Terkena Malaria


Mereka yang memiliki imunitas rendah terhadap malaria memiliki risiko yang lebih besar. Hal ini berlawanan dengan mereka yang tinggal di daerah endemik karena telah memiliki imunitas terhadap malaria.

Mereka yang berisiko mengalami malaria antara lain:
  • Anak-anak dan bayi
  • Pelancong yang datang dari wilayah tanpa malaria
  • Wanita hamil dan janinnya

Pencegahan dan Cara Pengobatan


Tidak ada vaksin yang efektif untuk melawan malaria. Pada negara-negara endemik cara pencegahannya adalah dengan menjauhkan nyamuk dari manusia dengan memakai obat nyamuk atau jaring nyamuk.

Cara Pencegahan


Biasanya pemerintah melakukan foging (pengasapan) di tempat-tempat endemik malaria. Namun kita juga bisa melakukan pencegahan seperti berikut:
  • Menghindari gigitan nyamuk dengan memakai baju tertutup
  • Menggunakan krim anti nyamuk
  • Memasang kelambu anti nyamuk
  • Jika Anda akan bepergian ke tempat di mana banyak nyamuk malaria mengancam, konsultasikan dulu dengan dokter
  • Jangan keluar rumah setelah senja
  • Menyemprotkan obat nyamuk di kamar tidur dan isi rumah

Jangan lupa, jaga kesehatan diri dengan makan makanan bergizi dan olahraga teratur untuk meningkatkan sistem imun dan mencegah serangan penyakit malaria!

Cara Pengobatan


Ada tiga faktor yang harus diperhatikan dalam pengobatan malaria yaitu : jenis plasmodium yang menginfeksi, keadaan klinis pasien (usia dan kehamilan) dan jenis obat yang cocok untuk plasmodium penginfeksi. Jenis obat tergantung dari daerah geografis tempat plasmodium tersebut hidup. Hal tersebut disebabkan adanya plasmodium yang sudah resisten terhadap beberapa obat pada daerah daerah tertentu.

Malaria ringan dapat diberikan obat oral. Sedangkan malaria berat yang mempunyai gejala klinis perdarahan harus di observasi di rumah sakit dengan pengobatan intra vena.

Sabtu, 04 Juni 2016

Pemeriksaan Trombosit

I.Bahan Pemeriksaan : Darah Vena dan kapiler
II.Tujuan                     :-Untuk mengetahui jumlah trombosit dan leukosit dalam lapang pandang
                                      -Untuk mengetahui jumlah trombosit dan erytrosit
III.Metode                  : Cara Langsung (Rees dan Ecker) dan Tak Langsung (Fonio)
IV.Prinsip                    :-Darah di campur dengan reagen rees ecker kedalam pipet erytrosit                       sampai tanda 101.
 -Dilakukan dengan penambahan Magnesium Sulfat yang berfungsi sebagai pengenceran .
V.Alat dan Bahan:
Pipet eritrosit                                                   darah kapiler
Bilik hitung                                                     darah vena
Lancet                                                             reagen rees ecker dan Giemsa
Mikroskop                                                       Magnesium sulfat
Kaca preparat                                                  Alkohol
VI.Dasar Teori
Trombosit berasal dari fragmentasi sitoplasma megakariosit, suatu sel muda yang besar dalam sumsum tulang. Megakariosit matang ditandai proses replikasi endomiotik inti dan makin besarnya volume plasma, sehingga pada akhirnya sitoplasma menjadi granular dan terjadi pelepasan trombosit. Setiap megakariosit mampu menghasilkan 3000 - 4000 trombosit, waktu dari diferensiasi sel asal (stem cell) sampai dihasilkan trombosit memerlukan waktu sekitar 10 hari. Umur trombosit pada darah perifer 7-10 hari. Trombosit adalah sel darah tak berinti, berbentuk cakram dengan diameter 1 - 4 mikrometer dan volume 7 – 8 fl. Trombosit dapat dibagi dalam 3 daerah (zona), zona daerah tepi berperan sebagai adhesi dan agregasi, zona “sol gel” menunjang struktur dan mekanisme interaksi trombosit, zona organel berperan dalam pengeluaran isi trombosit. Fungsi utama trombosit adalah pembentukan sumbatan mekanis sebagai respon hemostatik normal terhadap luka vaskuler, melalui reaksi adhesi, pelepasan, agregasi dan fusi serta aktivitas prokoagulannya. Nilai normal trombosit bervariasi sesuai metode yang dipakai. Jumlah trombosit normal menurut Deacie adalah 150 – 400 x 109 / L. Bila dipakai metode Rees Ecker nilai normal trombosit 140 – 340 x 109/ L, dengan menggunakan Coulter Counter harga normal 150 – 350 x 109/L. Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai bahan pemeriksaan yang digunakan dalam pemeriksaan trombosit dalam laboratorium dan kelainan trombosit yang mungkin terjadi
VII.Cara Kerja:
1.                  Isaplah larutan REES ECKER ke dalam pipet eritrosit samapi garis tanda “1″ dan buanglah lagi cairan itu.
2.                  Isaplah darah sampai garis tanda “0,5″ dan cairan REES ECKER sampai garis tanda “101″. Segeralah kocok selama 3 menit.
3.                  Teruskan tindakan seperti menghitung eritrosit dalam kamar hitung.
4.                  Biarkan kamar hitung yang telah terisi dalam sikap datar dengan deglass tertutup selama 10 menit agar trombosit mengendap
5.                  Hitunglah semua trombosit dalam seluruh bidang besar di tengah-tengah (1 mm kuadrat) memakai lensa objektif besar.
6.                  Jumlah itu dikalikan 2.000 menghasilkan jumlah trombosit per ul darah.
·                     
VIII.Hasil
Nama : Eka Partiwi
Umur : 19 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat: Kota Baru, Jambi

jadi, jumlah sel trombosit adalah
= 155 x 2000
= 310.000
IX.Pembahasan
Trombosit sukar dihitung karena mudah sekali pecah dan sukar dibedakan dengan kotoran kecil. Dan ditambah dengan sifatnya yang cenderung melekat pada permukaan asing (bukan endotel utuh) dan menggumpal-gumpal.Ada dua cara yang lazim di pakai, yaitu cara langsung dan cara tidak langsung. pada cara tidak langsung jumlah trombosit dibandingkan dengan jumlah eritrosit, sedangkan jumlah eritrosit itulah yang sebenarnya dihitung.Untuk mencegah trombosit melekat pada permukaan asing, dianjurkan untuk menggunakan alat-alat gelas yang dilapisi silikon atau alat-alat plastikPerlu diperhatikan dalam pengambilan sampel darah kapiler adalah sebelum penusukan dimulai keadaan setempat perlu diperhatikan dengan seksama, merupakan kontra indikasi adalah adanya bekas-bekas luka, keradangan, dermatitis ataupun oddema. Pengambilan darah kapiler dapat dilakukan bila jumlah darah yang dibutuhkan sedikit saja, atau dalam keadaan emergency, karena selain jumlah darah yang diambil sedikit sehingga jika terjadi kesalahan dalam pemeriksaan akan sulit untuk menanggulangi. Kesulitan-kesulitan yang sering terjadi dalam pengambilan sampel darah ini adalah, apabila kulit sekitar luka tusukan tidak kering karena alkohol atau keringat, maka tetesan darah yang keluar tidak dapat mengumpul melainkan menyebar ke sekitarnya sehingga sukar untuk mengambilnya. Lagipula bahan darah semacam ini tidak boleh digunakan karena sudah bercampur dengan bahan lain.
Darah tidak dapat keluar dengan lancar. Hal ini biasanya karena penusukan yang kurang dalam atau peredaran darah setempat kurang baik. Usaha untuk melancarkan pengeluaran darah dengan memijat akan sia-sia karena darah yang keluar tidak dapat dipergunakan karena sudah tercampur dengan cairan jaringan sehingga hasil pemeriksaan menunjukkan hasil yang lebih rendah dari yang sebenarnya. Pemeriksaan hitung jumlah trombosit dalam laboratorium dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung menggunakan metoda Rees Ecker, metoda Brecher Cronkite dan Cell Counter Automatic Metode Rees Ecker. Darah diencerkan dengan larutan BCB (Brilliant Cresyl Blue), sehingga trombosit akan tercat terang kebiruan. Trombosit dihitung dengan bilik hitung di bawah mikroskop, kemungkinan kesalahan metode Rees Ecker 16-25%.Metode Estimasi Babara Brown ini dilakukan dengan/anpa menggunakan MgSO4.Menghitung trombosit menggunakan lapang pandang 1000x dalam 10-15 kali lapang pandang.
REFERENSI.
Sotianingsih. Uji diagnostik pemeriksaan sediaan apus darah tepi dalam menilai fungsi agregasi trombosit.Dipresentasikan pada pertemuan PHTDI di Semarang, 2001. 
Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar – dasar metodologi penelitian klinis. Jakarta . Sagung Seto, 2002. 
Budiwiyono I. Prinsip pemeriksaan preparat hapus darah tepi. Dalam : Imam BW, Purwanto AP ed. Workshop Hematologi III. Keganasan hematologik. Pembacaan preparat darah hapus (Workshop Hematologi III). Semarang. Bagian PK FK Undip, 1995 : 19 – 2

Rabu, 01 Juni 2016

Laporan Pratikum Kimia Analitik Argentometri Cara Mohr

BAB I
PENDAHULUAN
        Ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari tentang komposisi,struktur dan sifat kimia atau materi berdasarkan perubahan yang menyertai terjadinya reaksi kimia atau suatu materi yang di ciptakan atau memusnahkan serta dapat dijelaskan proses atau reaksi yang ditimbulkan dari kejadian tersebut misalnya terjadi perubahan materi dan energy.
Kita hidup dalam era polimer Bahan bahan polimer alam yang sejak dahulu telah dikenal dan dimanfaatkan, seperti kapas, wool, dan damar Polimer sintesis. Setelah semua ion klorida mengendap maka kelebihan ion Ag pada saat titik akhir titrasi dicapai akan bereaks idengan indicator membentuk endapan coklat kemerahan. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, yang sering disingkat AMDAL, merupakan reaksi terhadap kerusakan lingkungan akibat   aktivitasmia yang semakin meningkatkan
 Kadar halogen dalam air dapat dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan suatu metode analisis titrimetri titrasi yang digunakan adalah titrasi argentometri (http://burungkicauan.net/pengertian-reaksi-argentometri)
Banyak sekali reaksi yang digunakan dalam analisis anorganik kualitatif melibatkan pembentukan endapan. Endapan adalah zat yang memisahkan diri sebagai suatu fase padat keluar dari larutan. Endapan mungkin berupa Kristal atau koloid,dan dapat dikeluarkan dari larutandengan penyaringan atau pemusingan. Endapan terbentuk jika larutn menjadi terlalu jenuh dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan suatu endapan,menurut defenisi adalah sama dengan konsenterasi molar dari larutan jenuhnya. Kelarutan tergantung pada berbagai kondisi,seperti suhu,tekanan,konsentrasi bahan-bahan lain dalam larutan itu,dan pada komposisi pelarutnya.(G.Svehla, 1979)
Terdapat dua cara dalam menentukan konsentrasi suatu larutan. Cara pertama membuat larutan dengan konsentrasi tertentu,yaitu dengan menimbang zat secara tepat menggunakan peralatan yang akurat. Cara kedua menggunakan perkiraan jumlah zat yang terlarut dan perkiraan jumlah zat pelarut,kemudian konsentrasinya ditentukan dengan metode titrasi. Titrasi adalah metode analisis kuantitatif untuk menentukan kadar suatu larutan. Larutan yang telah diketahui konsentrasinya dengan tepat disebut larutan baku atau larutan standar,sedangkan indicator adalah zat yang memberikan tanda perubahan pada saat titrasi berakhir yang dikenal dengan istilah titik akhir titrasi.(Nana Sutresna, 2008)
Titrasi argentometri biasa juga di sebut dengan titrasi pengendapan yang merupakan titrasi yang memperlihatkan pembentukan endapan dari garam yang tidak  mudah larut antara titran.Jenis ini adalah pencapaian keseimbangan pembentukan yang cepat setiap kali titran di tambahkan analit,tidak adanya interpensi yang mengganggu titrasi dan titik akhir titrasi mudah diamati.
Metode argentometri yang lebih luas lagi digunakan adalah metode titrasi kembali. Perak nitrat berlebihan ditambahkan ke sampel yang mengandung ion klorida atau bromide. Sisa AgNO3 selanjutnya dititradi kembali dengan ammonium tiosianidat menggunakan indicator besi (III) ammonium sulfat. (prof.Dr.Ibnu Gholib Gandjar,DEA.,Apt, 2009)
Argentometri adalah titrasi pengendapan yang  menggunakan larutan standar AgNO3 sebagai larutan bakunya.Biasa ada tiga metode Mohr,metode Volhard dan metode Vajans.
Ada dua syarat untuk titrasi ini yaitu :
1.    Konsentrasi mula-mula larutan yang hendak dititrasi cukup besar
2.    Hasil kali kelarutan (KSP) harus sekecil mungkin,karena semakin kecil KSP maka semakin tajam perubahan.(Raymond’s, 2001)
Maksud percobaan ini adalah untuk menetapkan ion klorida dalam cuplikan suatu sampel dengan metode argentometri.
Tujuan percobaan adalah untuk mengetahui pembakuan dan penetapak kadar dari suatu zat dengan menggunakan larutan baku AgNO3
Prinsip percobaan adalah berdasarkan metoda Mohr yaitu titrasi yang berdasarkan atas endapan yang menggunakan larutan baku argenti nitrat 0,1 N dan indicator kalium kromat yang membentuk endapan perak yang sukar larut
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.     Teori Umum
Argentometri merupakan titrasi  pengendapan sampel yang dianalisis dengan menggunakan ion perak,biasanya ion-ion yang ditentukan dalam titrasi ini adalah ion iodide (Cr-,Br-,P-).
Hasil  kali konsentrasi ion-ion yang terdapat dalam suatu larutan jenuh dari garam yang sukar larut  pada suhu tertentu adalah konstan. Dasar titrasi argento adalah pembentukan endapan yang  tidak mudah larut antara titran dengan analis.
Berdasarkan jenis indicator dan teknik titrasi yang dipakai maka titrasi argentometri dapat dibedakan atas tiga metode yaitu metode Mohr,metode Volhard,dan metode Vajans.
a.      Metode Mohr
Metode ini di pakai terutama dalam penentuan klorida dan bromida.Suatu larutan klorida dititrasi dengan larutan AgNO3,maka akan terjadi :
            Ag+ + Cl-                     AgCl
Titik akhir titrasi dapat dinyatakan dengan indicator larutan K2CrO4 dengan ion Ag+ berlebih menghasilkan endapan merah dari AgCrO4. Kelebihan dari AgCl yang berwarna putih mulai berubah warna menjadi kemerah-merahan. Titrasi ini harus dilakukan dalam suasana netral agar dapat diperoleh dalam keadaan murni.  Sebagai larutan baku primer mempunyai bobot equivalen yang tinggi.
b.      Metode Volhard
Titrasi ini dilakukan secara tak langsung di mana ion halogen di endapkan oleh ion Ag+ berlebih-lebihan. Kelebihan ion perak dititrasi dengan larutan KCNS atau NH2CNS. Titk akhir titrasi dapat dinyatakan dengan indicator ion FE+++ yang dengan ion CNS berlebihan menghasilkan larutan berwarna merah. Titrasi dilakukan dalam suasana asam yang berlebihan.
c.      Metode Vajans
Metode ini adalah suatu halogen dengan AgNO3 membentuk endapan perak halogenida yang pada titik equivalen dapat mengabsorpsi berbagai zat warna,dengan demikian terjadi perubahan warna. Klorida dapat dititrasi dengan indicator flouresen bromida,iodide dan thiosianat dapat dititrasi dalam suasana asam lemah.(Prof.Dr.Ibnu Gholib Gandjar,DEA.,Apt,2009)
Kurva titrasi.
Bila kita alurkan volume titransebagai absis dan pAg atau pX             (X =anion yang di endapkan oleh Ag+) sebagai ordinat,maka akan diperoleh kurva titrasi. Di situ titrant ialah AgNO3 dan yang di titrasi adalah NaCl. Perhitungan koordina adalah sebagai berikut :
a)     Awal : pCl = -log [NaCl] ; misal [NaCl]= 0,1 maka pCl = 0,1
b)     Sebelum titik akhir : Ag+    +    Cl-            ↔ AgCl
Y             (a – n) + y               n – y
            Di mana a = mmol Cl- semula (jumlah analitis)
                            n = mmol Ag+ yang telah di tambahkan
                           y = mmol Ag+ yang tak terendapkan sebagai akibat
                               kesetimbangannya;
maka jumlah AgCl yang terendap (tanpa kesetimbangan)ialah n mmol. Boleh dibayangkan,bahwa kemudian y mmol AgCl larut kembali untuk memenuhi hokum kesetimbangan ,dengan membentuk kembali y mmol Ag+ dan Cl-. Maka dalam keadaan setimbang terdapat y mmol Ag+ dan (a – n) + y mmol Cl-,sehingga :
             .  = Ksp AgCl (W.Harjadi, 1993)
            Indicator adsorbs pada titrasi pengendapan
Jika AgNO3 ditambahkan pada NaCl yang mengandung zat berpendar flour,titik akhir di tentukan dengan berubahnya warna dari kuning menjadi merah jingga. Jika didiamkan,tampak endapan berwarna,sedangkan larutan tidak berwarna disebabkan adanya adsorbsi indicator pada endapan AgCl. Warna yang terbentuk dapat berubah akibat adsorbs pada permukaan. Dengan indicator anion,reaksi tersebut :
Jika Cl yang berlebih :(AgCl)Cl- + FL             tidak bereaksi
(jika FL =C20H11O5 yaitu zat berpendapat flour)
Jika Ag+ yang berlebihan (AgCl) Ag+ + FL            (AgCl)(AgFL)adsorbsi
(S.M.Khopkar, 2007)
Salah satu jenis titrasi pengendapan yang sudah lama dikena ladalah melibatkan reaksi pengendapan antara ion halida (Cl-, I-, Br-) dengan ion perak. Titrasi ini biasanya disebut sebagai Argentometri yaitu titrasi   penentuananalit yang berupa ion halida (pada umumnya) dengan menggunakan larutan standart perak nitrat AgNO3. Titras iargentometr itidak hanya dapat digunakan untuk menentukan ion halide akan tetapi juga dapat dipaka iuntuk menentukan merkaptan (thioalkohol), asamlemak, dan beberapa anion divalent seperti ion fosfat PO43- dan ion arsenat AsO43-.
Dasar titrasi argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak mudah larut antara titran dengan analit. Sebagai contoh yang banyak dipakai adalah titrasi penentuan NaCl dimana ion Ag+ dari titran akan bereaksi dengan ion Cl- dar ianalit membentuk garam yang tidak mudah larut AgCl :
Ag(NO3)(aq)  +  NaCl(aq) ->AgCl(s)  + NaNO3(aq)
Setelah semua ion klorida dalam analit habis maka kelebihan ion perak akan bereaksi dengan indicator. Indikator yang dipakai biasanya adalah ion kromat CrO42- dimanadengan indicator ini ion perak akan membentuk endapan berwarna coklat kemerahan sehingga titik akhir titrasi dapat diamati. Inikator lain yang bisa dipakai  adalah  tiosianida dan indicator adsorbsi. Berdasarkan jenis indicator dan teknik titrasi yang dipakai maka titrasi argentometri dapat di bedakan atas Argentometri dengan metode Mohr,Volhard,atau Fajans. Selain menggunakan jenis indicator diatas maka kita juga dapat menggunakan metode potensi ometri untuk menentukan titik ekuivalen.
B.    Uraian Bahan
1.      Aquadest (FI Edisi III hal.96)
Nama resmi                        :  AQUADESTILLATA
Nama lain               :  Air suling
Berat molekul         :  18.02
Rumus molekul     :  H2O
Pemerian                : Cairan jernih,tidak berbau,tidak berasa 
                            dan tidak berwarna.
Penyimpanan        : Dalam wadah tertutup
Khasiat                    : Sebagai pelarut
2.      Argenti nitrat (FI Edisi III hal.97)
Nama resmi                        : ARGENTI NITRAS
Nama lain               : Argenti nitrat
Berat molekul         : 169,87
Rumus molekul     : AgNO3
Pemerian                : Hablur transparan atau serbuk hablur
                                                                       berwarna putih,tidak berbau,menjadi gelap
                                  jika terkena cahaya.
Kelarutan                : Sangat mudah larut dalam air,larut dalam
                                  etanol 95% P.
Penyimpanan        : Dalam wadah tertutup rapat
Khasiat                    : Antiseptikum ekstern,kuastikum
3.      Kalium kromat (FI Edisi III hal.690)
Nama resmi                       : KALII IROMAT P
Nama lain                          : Kalium kromat
Berat molekul                    : 194,19
Rumus molekul                : K2CrO4
Khasiat                               : Murni pereaksi
4.      Kalium klorida(FI Edisi III hal.329)
Nama resmi                        : KALII CHLORIDA
Nama lain               : Kalium klorida
Berat molekul         : 74,55
Rumus molekul     : KCl
Pemerian                : Hablur berbentuk kubus atau berbentuk
                                  prisma,tidak berwarna atau serbuk putih,
                                 tidak berbau,rasa asin,mantap di udara
Kelarutan                : Larut dalam 3 bagian air,sangat mudah
                                 larut dalam     air mendidih,praktis tidak larut
                                  dalam etanol mutlak P dan dalam eter P.
Penyimpanan        :  Dalam wadah tertutup rapat
Khasiat                    :  Sumber ion kalium
BAB III
METODE KERJA
A.     Alat dan Bahan
a.  Alat yang digunakan
1.      Buret 50 ml
2.      Corong gelas
3.      Erlenmeyer
4.      Labu ukur 100 ml
5.      Label
6.      Lab halus dan lab kasar
7.      Pipet tetes
8.      Pipet volume 5ml.10ml,dan 25ml
9.      Sendok tanduk
10.   Statif
11.   Timbangan analitik
b.  Bahan yang digunakan
1.      Aquadest (H2O)
2.      Argenti nitrat (AgNO3)
3.      Kalium kromat (K2CrO4)
4.      Kalium klorida (KCl)
B.        Cara kerja
a.  Pembuatan larutan baku AgNO3
1.  Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2.  Ditimbang secara seksama AgNO3
3.  Masukkan dalam labu ukur 100 ml.
4.  Masukkan aquadest 30 ml kocok hingga larut
5.  Masukkan volumenya dengan aquadest sampai tanda
b.  Pembakuan AgNO3
1.  Isi buret dengan AgNO3
2.  Timbang dengan seksama NaCl 100 mg dan masukkan ke dalam labu ukur 100 ml
3.  Cukupkan volumenya sampai tanda dengan aquadest,kemudian kocok hingga larut
4.  Dipipet 25 ml larutan ini,di pindahkan ke dalam Erlenmeyer
5.  Tambahkan dengan indikator            kalium kromat kurang lebih 3 tetes,lalu di kocok hingga larut
6.  Di titrasi dengan indicator argenti nitrat 0,1 N hingga membentuk endapan merah bata
7.  Di lakukan sebanyak 3 kali
c.   Penetapan kadar AgNO3
1.  Di siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2.  Timbang secara seksama KCl sebanyak 0,18 gram
3.  Masukkan ke dalam Erlenmeyer dan tambahkan aquadest sebanyak 25 ml
4.  Tambahakan  indikator K2CO3  sebanyak 2-3 tetes,
5.  Titrasi dengan larutan AgNO3
6.  Catat volume titrasi dan hitung % kadarnya
    
                                                          

BAB IV
             HASIL PENGAMATAN
A.     Tabel pengamatan
No
Sampel
Berat sampel
Volume
titrasi
Perubahan   warna
1
2
3
KCl
KCl
KCl
0,18 gram(180 mg)
0,18 gram(180 mg)
0,18 gram(180 mg)
27,8 ml
28,8 ml
34,4 ml
Kuning-merah bata
Kuning-merah bata
Kuning-merah bata
                                                                                 
B.    Reaksi – reaksi
a.  K2CrO4  +  2 AgNO3                Ag2CrO4  +  2KNO3
b.  AgNO3   + NaCl               AgCl       +  NaNO3 
C.    Perhitungan
1.  % K1   =
           =  x 100 %
      = 115,136 %
2.  % K2   =   =  x 100 %
                     =  119,28 %
3.  % K3  =
          =  x 100 %
          = 142,05 %
4.  % kadar rata – rata   =
                       =
                       = 125,48 %

D.    Pembahasan
Argentometri merupakan titrasi pengendapan sampel yang dianalisis dengan menggunakan perak nitrat (AgNO3),biasanya ioin-ion yang di tentukan dalam titrasi ini adalah ion iodide.
Dalam percobaan digunakan larutan baku AgNO3,KCl sebagai zat uji dan indicator K2CrO4. Pada zat uji yang pertama dengan berat sampel adalah 180 mg,volume titrasi yang di dapatkan adalah 27,8 ml,dengan perubahan warna yang terjadi adalah dari warna kuning menjadi warna merah bata. Pada uji yang ke dua dengan berat sampel 180 ml,volume titrasi yang di dapatkan adalah 28,8 ml,dengan perubahan warna dari warna kuning menjadi merah bata.Pada uji yang ke tiga dengan 180 ml,volume titrasi yang di dapatkan adalah 34,3 ml dan dengan perubahan warna dari warna kuning menjadi warna merah bata.
Pada percobaan ini juga di dapatkan mg dan %kadar dari larutan KCl yaitu : Pada percobaan pertama,mg yang di dapatkan sebesar 207,245 dan % kadar yang di dapatkan adalah 115,136%. Pada percobaan ke dua,mg yang didapatkan sebesar 214,704 dan % kadar yang didapatkan adalah 119,28 % Pada percobaan ke tiga, mg yang didapatkan sebesar 225,706 dan % kadar yang didapatkan adalah 142,05%.Dan mg rata-rat yang didapatkan adalah 215,88 dan %kadar rata-rata adalah 125,84 %. Pada percobaan ini % kadar KCl yang didapatkan lebih besar daripada % kadar KCl pada literature yang menyatakan bahwa KCl mengandung tidak kurang dari 99,0% KCl.
Adapun factor-faktor yang mempengaruhi kesalahan pada saat praktikum adalah :
a.      Alat yang digunakan tidak steril
b.      Bahan yang digunakan sudah terkontaminasi dengan zat yang lain
c.      Kurangnya ketelitian praktikan pada saat melakukan percobaan baik pada saat penimbangan maupun pada saat titrasi
d.      Kurang teliti pada saat membaca volume titrasi
                                
BAB V
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :
1.   Pada percobaan pertama,mg yang di dapatkan sebesar 207,245 dan % kadar yang di dapatkan adalah 115,136%. Pada percobaan ke dua,mg yang didapatkan sebesar 214,704 dan % kadar yang didapatkan adalah 119,28 %. Pada percobaan ke tiga, mg yang didapatkan sebesar 225,706 dan % kadar yang didapatkan adalah 142,05%.Dan mg rata-rat yang didapatkan adalah 215,88 dan %kadar rata-rata adalah 125,84 %.
2.    % kadar KCl yang didapatkan tidak sesuai dengan literature Karena %kadar yang didapatka lebih besar daripada % kadar KCl pada literature yang menyatakan bahwa KCl mengandung tidak kurang dari 99,0% KCl.
B.    Saran
                 Kami sebagai praktikan sangat mengharapkan bimbingan dan arahan dari para asisten baik pada saat praktikum maupun pada saat pembuatan laporan.
                                                DAFTAR PUSTAKA
DIRJEN POM,1979. Farmakope Indonesia Edisi III. DEPKES RI ; Jakarta
Harjadi.W,1993. Ilmu kimia Analitik Dasar. Gramedia ;Jakarta
Khopkar S.M,2007. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia        Jakarta
[
Prof.Dr.Ibnu Gholib,2009. Kimia Farmasi Analis. Pustaka Pelajar ;      Yogyakarta
Raymond’s,2001. Frame Analisis chemistry of pharmacy 2. Makassar
Shehla.G,1979. Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro Edisi Ke Lima. Kalma Media Pustaka;Jakarta
Sutresna Nana,2008. Cerdas Belajar Kimia. Grafindo Media Pratama;Jakarta
Tim Dosen,2011. Penuntun Praktikum Kimia analis. Universitas Indonesia   Timur;Makassar
  
Perhitungan bahan
1.    Mg1  = vt x N x Be.KCl
                             = 27,8 x 0,1 x 74,55
                             = 207,245
2.    Mg2  = vt x N x Be.KCl
         = 28,8 x 0,1 x 74,55
         = 214,704
3.    Mg3 = vt x N x Be.KCl
       = 34,3 x 0,1 x 74,55
        = 255,706
4.    Mg rata-rata =
                     =
                   = 215,88